Lompat ke isi

Kordofon

Dari Mippedia bahasa Indonesia, ensiklopedia umum
Kordofon
Nama lain Alat musik dawai, alat musik senar, chordophone
Klasifikasi induk Alat musik / Organologi
Sumber bunyi Getaran dawai (senar)
Mekanisme eksitasi Digesek, dipetik, dipukul, atau ditiup (angin)
Komponen akustik Dawai, titik tumpu (nut & bridge), resonator (kotak suara)
Unit pengukuran Tegangan (tension), massa jenis, panjang gelombang
Sub klasifikasi 3.1 (Kordofon sederhana/Zither), 3.2 (Kordofon komposit/Lute)
Subjek terkait Akustik, Psikoakustik, Luthier, Hukum Mersenne
Klasifikasi hornbostel sachs 3

Kordofon ( bahasa Inggris: 'chordophone' ) adalah kelompok alat musik yang menghasilkan suara melalui getaran dawai atau senar yang diregangkan di antara dua titik tetap. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani chordē (dawai) dan phōnē (suara). Kordofon merupakan salah satu dari empat kategori utama dalam sistem klasifikasi instrumen musik asli yang dikembangkan oleh Erich von Hornbostel dan Curt Sachs (Sistem Hornbostel-Sachs).

Berbeda dengan istilah populer "alat musik dawai", klasifikasi kordofon mencakup instrumen apa pun yang menggunakan senar sebagai sumber bunyi utama, termasuk instrumen yang secara visual tampak seperti perkusi (seperti piano) atau alat musik tiup tertentu yang memiliki senar di dalamnya.

Prinsip Fisika Kordofon

[sunting | sunting sumber]

Produksi nada pada kordofon mengikuti prinsip akustik yang didefinisikan dalam Hukum Mersenne. Frekuensi getaran ($f$) dari sebuah dawai ditentukan oleh interaksi antara tiga parameter utama:

  1. Panjang Dawai ($L$): Semakin pendek bagian dawai yang bergetar, semakin tinggi frekuensinya.
  2. Tegangan Dawai ($T$): Semakin kencang dawai diregangkan, semakin tinggi nada yang dihasilkan.
  3. Massa per Satuan Panjang ($\mu$): Dawai yang lebih tebal atau berat menghasilkan getaran yang lebih lambat (nada rendah).

Formula dasar frekuensi dawai adalah: $$f = \frac{1}{2L} \sqrt{\frac{T}{\mu}}$$

Klasifikasi Hornbostel-Sachs

[sunting | sunting sumber]

Sistem ini membagi kordofon menjadi dua kelompok besar berdasarkan hubungan antara dawai dengan resonatornya:

3.1 Kordofon Sederhana (Simple Chordophones / Zithers)

[sunting | sunting sumber]

Instrumen yang terdiri dari dawai dan penyangga dawai, di mana resonator dapat dilepas tanpa merusak struktur utama alat musik tersebut.

3.2 Kordofon Komposit (Composite Chordophones)

[sunting | sunting sumber]

Instrumen di mana resonator dan penyangga dawai (leher) merupakan satu kesatuan struktur yang tidak dapat dipisahkan secara fungsional.

  • Lute: Dawai sejajar dengan papan suara. Contoh: Gitar, Biola, Oud.
  • Harpa: Dawai tegak lurus terhadap papan suara. Contoh: Harpa.
  • Lira: Dawai diregangkan di antara dua lengan yang terhubung oleh palang melintang. Contoh: Lira.

Mekanisme Eksitasi

[sunting | sunting sumber]

Meskipun sumber bunyinya selalu dawai, cara menggetarkannya sangat bervariasi:

  • Petikan (Plucked): Menggunakan jari atau plektrum. Contoh: Gitar, Kecapi.
  • Gesekan (Bowed): Menggunakan busur. Contoh: Biola, Rebab.
  • Pukulan (Struck): Menggunakan palu atau martil kecil. Contoh: Piano, Dulcimer.
  • Tiupan (Aeolian): Dawai bergetar karena aliran angin alami. Contoh: Harpa Aeolian.

Kordofon dalam Budaya Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Indonesia memiliki ragam kordofon unik yang menunjukkan kecerdasan lokal dalam mengolah bahan alam:

  • Sasando: Kordofon tipe zither bambu dengan resonator daun lontar (Nusa Tenggara Timur).
  • Sape: Kordofon tipe lute dengan badan kayu utuh (Kalimantan).
  • Celempung dan Siter: Kordofon dawai kawat dalam gamelan Jawa.
  • Hasapi: Lute dua senar dari kebudayaan Batak Toba.

Lihat Pula

[sunting | sunting sumber]