Lompat ke isi

Bahasa resmi: Perbedaan antara revisi

Dari Mippedia bahasa Indonesia, ensiklopedia umum
Admin (bicara | kontrib)
←Membuat halaman berisi ''''Bahasa resmi''' adalah bahasa yang diberikan status hukum khusus oleh suatu negara, negara bagian, atau wilayah yurisdiksi tertentu. Secara umum, bahasa resmi digunakan dalam administrasi pemerintahan, pembuatan undang-undang, persidangan di pengadilan, dan sistem pendidikan resmi. Status ini membedakannya dari bahasa nasional, yang merujuk pada bahasa yang secara sosio-kultural dianggap sebagai identitas suatu bangsa, meskipun...'
Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
 
Mipbot (bicara | kontrib)
Bot: Memperbaiki format dan melengkapi tag #related
 
(13 revisi perantara oleh 3 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Bahasa resmi''' adalah [[bahasa]] yang diberikan status hukum khusus oleh suatu [[negara]], [[negara bagian]], atau wilayah yurisdiksi tertentu. Secara umum, bahasa resmi digunakan dalam administrasi [[pemerintahan]], pembuatan [[undang-undang]], persidangan di [[pengadilan]], dan sistem [[pendidikan resmi]]. Status ini membedakannya dari [[bahasa nasional]], yang merujuk pada bahasa yang secara sosio-kultural dianggap sebagai identitas suatu bangsa, meskipun dalam banyak kasus, bahasa resmi dan bahasa nasional merujuk pada satu bahasa yang sama.
{{SHORTDESC:Bahasa yang diberikan status hukum dan pemerintahan secara khusus di suatu negara atau yurisdiksi}}
{{Infobox status bahasa
| nama = Bahasa Resmi
| gambar = UN_Languages.gif
| gambar_keterangan = Peta yang menunjukkan enam bahasa resmi yang digunakan oleh [[Perserikatan Bangsa-Bangsa]] di seluruh dunia.
| jenis_status = [[Kebijakan bahasa]], Status Hukum
| subjek_penerapan = [[Negara berdaulat]], [[Pemerintah daerah|Pemerintahan daerah]], [[Organisasi internasional]]
| otoritas_pengatur = [[Konstitusi]], [[Undang-undang]], Badan bahasa negara
| contoh_wilayah = [[Kanada]] (Inggris & Prancis), [[Singapura]] (Inggris, Melayu, Mandarin, Tamil)
| aspek_terkait = [[Bahasa nasional]], [[Bahasa kerja]], [[Linguistik sosiologi|Sosiolinguistik]]
}}


Lebih dari separuh negara di dunia memiliki setidaknya satu bahasa resmi. Beberapa negara hanya menetapkan satu bahasa resmi (seperti [[Prancis]] dan [[Albania]]), sementara negara lain menerapkan kebijakan [[multibahasa]] dengan menetapkan beberapa bahasa resmi sekaligus, seperti [[Kanada]] (bahasa Inggris dan Prancis) atau [[Swiss]] (bahasa Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh). Sebaliknya, terdapat pula negara-negara yang secara ''[[de facto]]'' memiliki bahasa resmi yang dominan digunakan dalam pemerintahan tetapi tidak menetapkannya secara resmi dalam undang-undang (*[[de jure]]*), contoh utamanya adalah [[Amerika Serikat]] dan [[Britania Raya]].
'''Bahasa resmi''' adalah sebuah [[bahasa]] yang diberikan status hukum secara khusus oleh suatu [[negara]], [[negara bagian]], atau yurisdiksi tertentu. Secara umum, bahasa resmi merupakan bahasa yang digunakan dalam lingkungan pemerintahan, [[sistem hukum]], administrasi publik, dan dokumen kenegaraan (seperti [[undang-undang]] dan peraturan resmi). Istilah ini tidak secara otomatis merujuk pada bahasa yang paling banyak digunakan oleh populasi di suatu wilayah, melainkan bahasa yang ditetapkan oleh [[pemerintah]] untuk keperluan operasional dan birokrasi.


== Perbedaan Konseptual ==
Hampir separuh dari negara-negara di dunia memiliki bahasa resmi. Beberapa negara, seperti [[Indonesia]] dan [[Prancis]], hanya memiliki satu bahasa resmi, sedangkan negara lain, seperti [[Afrika Selatan]], [[India]], dan [[Swiss]], mengakui banyak bahasa resmi untuk mengakomodasi keragaman etnis dan linguistik di wilayah mereka. Di sisi lain, terdapat pula negara yang tidak memiliki bahasa resmi secara ''[[de jure]]'' (berdasarkan hukum) di tingkat federal, seperti [[Amerika Serikat]] dan [[Britania Raya]], meskipun bahasa Inggris berfungsi sebagai bahasa resmi secara ''[[de facto]]'' (dalam praktik nyata).
Dalam kajian [[sosiolinguistik]] dan [[hukum tata negara]], penting untuk membedakan antara bahasa resmi dengan kategori bahasa lainnya:


=== Bahasa Resmi vs. Bahasa Nasional ===
== [[Sejarah]] dan Perkembangan ==
* '''Bahasa resmi''' berorientasi pada fungsi [[birokrasi]], administrasi, dan hukum tata usaha negara. Statusnya ditentukan melalui instrumen hukum tertulis seperti [[konstitusi]] atau undang-undang.
Konsep bahasa resmi mulai berkembang seiring dengan munculnya [[negara bangsa]] pada masa pasca-[[Abad Pertengahan]] di [[Eropa]]. Sebelumnya, pada masa kuno, [[Kekaisaran Romawi]] menggunakan [[bahasa Latin]] dan [[bahasa Yunani]] sebagai bahasa administrasi, meskipun berbagai bahasa lokal tetap digunakan oleh penduduk taklukan.  
* '''[[Bahasa nasional]]''' berorientasi pada fungsi [[identitas nasional]], kebudayaan, dan pemersatu bangsa. Sebuah bahasa nasional tidak selalu menjadi bahasa resmi, dan sebaliknya. Sebagai contoh, [[Filipina]] menetapkan [[bahasa Filipino]] sebagai bahasa nasional, namun menetapkan bahasa Filipino dan [[bahasa Inggris]] sebagai bahasa resmi untuk keperluan pemerintahan.


=== Bahasa Resmi vs. Bahasa Kerja ===
Pada abad ke-16, [[Ordonansi Villers-Cotterêts]] (1539) yang dikeluarkan oleh Raja [[François [[I]] dari Prancis|François I]] menetapkan bahasa Prancis sebagai satu-satunya bahasa yang sah untuk dokumen hukum dan administrasi di [[Prancis]], menggantikan bahasa Latin. Hal ini merupakan salah satu contoh pertama dari penetapan bahasa resmi secara formal oleh sebuah entitas negara modern untuk menyatukan populasi yang memiliki beragam [[dialek]].
* '''[[Bahasa kerja]]''' adalah bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari dan operasional di dalam suatu organisasi internasional atau institusi (misalnya, [[Perserikatan Bangsa-Bangsa]] memiliki enam bahasa resmi, tetapi hanya menggunakan bahasa Inggris dan Prancis sebagai bahasa kerja sehari-hari di sekretariatnya).


== Implikasi Hukum dan Pemerintahan ==
Di era [[kolonialisme]], negara-negara Eropa seperti [[Spanyol]], [[Portugal]], [[Britania Raya]], dan Prancis sering kali memaksakan bahasa mereka sebagai bahasa resmi di wilayah jajahan. Akibatnya, hingga saat ini, banyak negara pasca-kolonial di [[Afrika]] dan [[Amerika Latin]] yang masih menggunakan bahasa mantan penjajah mereka sebagai bahasa resmi demi menjaga netralitas antaretnis di dalam negeri atau untuk memfasilitasi urusan internasional.
Penetapan suatu bahasa menjadi bahasa resmi membawa implikasi hukum yang luas bagi pemerintah negara yang bersangkutan, antara lain:
# '''Kodifikasi Hukum:''' Seluruh dokumen kenegaraan, lembaran negara, rancangan undang-undang, dan peraturan wajib diterbitkan dalam bahasa resmi agar memiliki kekuatan hukum yang mengikat.
# '''Sistem Peradilan:''' Setiap warga negara berhak menjalani proses peradilan, baik sebagai terdakwa, saksi, maupun penggugat, dengan menggunakan bahasa resmi atau mendapatkan bantuan [[penerjemah]] yang difasilitasi negara jika tidak menguasainya.
# '''Pelayanan Publik:''' Instansi pemerintah, kepolisian, dan lembaga pelayanan kesehatan publik wajib menyediakan informasi dan pelayanan dalam bahasa tersebut.


== Penerapan di Berbagai Negara ==
== Perbedaan dengan Bahasa Nasional ==
Bahasa resmi sering kali disamakan dengan [[bahasa nasional]], padahal keduanya memiliki fungsi dan makna yang berbeda dalam kajian [[sosiolinguistik]] dan kebijakan bahasa:
* '''Bahasa Resmi''' berfokus pada fungsi pragmatis, administratif, dan hukum. Bahasa ini digunakan oleh negara untuk menjalankan roda pemerintahan.
* '''Bahasa Nasional''' berfokus pada fungsi ideologis, budaya, dan identitas. Bahasa ini dianggap mewakili jiwa atau identitas kebangsaan dari masyarakat di suatu negara.


=== Indonesia ===
Sebagai contoh, di [[Singapura]], bahasa Melayu adalah satu-satunya bahasa nasional berdasarkan konstitusi, namun negara ini memiliki empat bahasa resmi: bahasa Inggris, bahasa Melayu, [[bahasa Mandarin]], dan [[bahasa Tamil]]. Di [[Indonesia]], [[bahasa Indonesia]] memegang status ganda yang unik, yakni sebagai bahasa resmi negara sekaligus sebagai bahasa nasional pemersatu bangsa.
Di [[Indonesia]], status bahasa resmi diatur secara tegas dalam Pasal 36 [[Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945]] yang menyatakan bahwa ''"Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia"'.'' Ketentuan ini kemudian diperluas melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Dalam konteks ini, [[bahasa Indonesia]] memegang peran ganda secara mutlak, yaitu sebagai [[bahasa nasional]] (identitas dan pemersatu) sekaligus [[bahasa resmi]] negara (administrasi pemerintahan dan hukum).


=== Swiss ===
== Bahasa Resmi di Negara Multilingual ==
[[Swiss]] merupakan salah satu contoh negara federasi yang menerapkan prinsip [[multilinguisme]] ekstrem. Berdasarkan Konstitusi Federal Swiss, terdapat empat bahasa resmi yang diakui secara nasional, yaitu [[bahasa Jerman]], [[bahasa Prancis]], [[bahasa Italia]], dan [[bahasa Romansh]]. Seluruh dokumen federal, situs web pemerintahan, dan undang-undang wajib diterbitkan dalam empat versi bahasa tersebut guna menjaga keseimbangan politik dan menghormati hak-hak linguistik tiap kelompok minoritas.
Di negara-negara yang sangat [[multilingualisme|multilingual]], pemilihan bahasa resmi sering kali menjadi isu politik yang sensitif. Untuk menghindari konflik antaretnis, banyak negara memilih untuk menetapkan lebih dari satu bahasa resmi:
* '''Kanada:''' Memiliki dua bahasa resmi di tingkat federal, yaitu bahasa Inggris dan [[bahasa Prancis]], untuk mengakui dua komunitas pendiri negara tersebut.
* '''Swiss:''' Mengakui empat bahasa resmi: [[bahasa Jerman]], Prancis, [[bahasa Italia]], dan [[bahasa Romansh]]. Pembagian administrasi sangat bergantung pada wilayah geografis (kanton).
* '''India:''' Konstitusi India tidak menetapkan satu bahasa nasional, tetapi menetapkan bahasa Hindi (dalam aksara [[Dewanagari]]) dan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi pemerintah federal. Selain itu, terdapat 22 bahasa yang diakui secara resmi di berbagai negara bagian.
* '''Afrika Selatan:''' Pasca-era [[Apartheid]], negara ini menetapkan 11 (kemudian menjadi 12 pada tahun 2023 dengan diakuinya bahasa isyarat) bahasa resmi untuk memberikan pengakuan setara terhadap bahasa-bahasa pribumi seperti [[bahasa Zulu]] dan [[bahasa Xhosa]], di samping bahasa Inggris dan [[bahasa Afrikaans]].


=== Amerika Serikat ===
== Penggunaan di [[Organisasi]] Internasional ==
Secara tingkat federal, [[Amerika Serikat]] tidak pernah menetapkan bahasa resmi di dalam konstitusinya. [[Bahasa Inggris]] digunakan sebagai bahasa resmi secara ''de facto'' karena merupakan alat komunikasi utama dalam administrasi pemerintahan dan hukum sejak berdirinya negara tersebut. Meskipun demikian, di tingkat negara bagian (*state*), sekitar 32 dari 50 negara bagian telah mengesahkan undang-undang yang menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi mereka secara ''de jure''. Beberapa negara bagian juga menetapkan bahasa tambahan, seperti [[Hawaii]] yang meresmikan [[bahasa Hawaii]] berdampingan dengan bahasa Inggris.
Selain negara, [[organisasi internasional]] juga menetapkan bahasa resmi untuk mengatur jalannya pertemuan, penerjemahan dokumen, dan komunikasi antaranggota.  
* '''Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB):''' Memiliki enam bahasa resmi, yaitu [[bahasa Arab]], [[bahasa Mandarin]], [[bahasa Inggris]], [[bahasa Prancis]], [[bahasa Rusia]], dan [[bahasa Spanyol]].
* '''Uni Eropa:''' Sebagai entitas supranasional, Uni Eropa sangat menekankan [[multilingualisme]] dan saat ini memiliki 24 bahasa resmi yang memiliki kedudukan hukum yang sama, di mana seluruh undang-undang Uni Eropa harus diterjemahkan ke dalam setiap bahasa tersebut.
* '''ASEAN:''' Memiliki satu bahasa resmi untuk urusan diplomasi dan dokumen tingkat kawasan, yaitu bahasa Inggris.


== Kebijakan Bahasa di Organisasi Internasional ==
== Dampak Sosial dan Politik ==
Lembaga antarpemerintah internasional sering kali menetapkan beberapa bahasa resmi sekaligus untuk memfasilitasi diplomasi global dan menghindari dominasi satu kultur geopolitik.
Penetapan suatu bahasa sebagai bahasa resmi dapat memberikan keuntungan besar bagi penutur asli bahasa tersebut, seperti kemudahan akses terhadap [[pendidikan]], pekerjaan pemerintah, dan sistem peradilan. Sebaliknya, kebijakan ini sering kali meminggirkan [[bahasa minoritas]]. Ketika warga negara tidak menguasai bahasa resmi, mereka dapat mengalami kesulitan dalam berpartisipasi dalam kehidupan politik dan menghadapi risiko diskriminasi hukum.


* '''[[Perserikatan Bangsa-Bangsa]] (PBB):''' Memiliki enam bahasa resmi yang digunakan dalam sidang umum dan dewan keamanan, yaitu [[bahasa Arab]], [[bahasa Tionghoa]], [[bahasa Inggris]], [[bahasa Prancis]], [[bahasa Rusia]], dan [[bahasa Spanyol]].
Beberapa ahli bahasa mengkritik kebijakan bahasa resmi yang membatasi penggunaan bahasa lokal sebagai bentuk [[imperialisme linguistik]]. Oleh karena itu, belakangan ini mulai bermunculan gerakan hak-hak bahasa (''linguistic rights'') yang mendorong negara untuk melindungi bahasa minoritas serta menyediakan layanan penerjemahan di ruang publik.
* '''[[Uni Eropa]]:''' Menerapkan kebijakan kesetaraan bahasa dengan mengakui 24 bahasa resmi. Setiap regulasi yang dikeluarkan oleh Uni Eropa harus diterjemahkan ke dalam seluruh 24 bahasa tersebut agar berlaku di semua negara anggota.
* '''[[Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara]] (ASEAN):''' Menetapkan [[bahasa Inggris]] sebagai satu-satunya bahasa kerja resmi organisasi, meskipun komunikasi dengan masyarakat luas di tiap negara anggota tetap menggunakan bahasa lokal masing-masing.


== Lihat Pula ==
* [[Kebijakan bahasa]]
* [[Bahasa minoritas]]
* [[Kematian bahasa]]
* [[Perencanaan bahasa]]
* [[Lingua franca]]
[[Kategori:Kebijakan bahasa]]
[[Kategori:Hukum administrasi negara]]
[[Kategori:Bahasa]]
[[Kategori:Bahasa]]
[[Kategori:Hukum internasional]]
[[Kategori:Hukum internasional]]
Baris 42: Baris 61:
[[Kategori:Hukum tata negara]]
[[Kategori:Hukum tata negara]]
[[Kategori:Politik bahasa]]
[[Kategori:Politik bahasa]]
{{#related: Perangkat lunak audio digital}}
{{#related: Vokal}}
{{#related: Mippedia Data}}

Revisi terkini sejak 9 September 2026 12.50

Bahasa Resmi
Peta yang menunjukkan enam bahasa resmi yang digunakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di seluruh dunia.
Peta yang menunjukkan enam bahasa resmi yang digunakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di seluruh dunia.
Informasi Kebijakan
Jenis Status Kebijakan bahasa, Status Hukum
Diterapkan Oleh Negara berdaulat, Pemerintahan daerah, Organisasi internasional
Otoritas Hukum Konstitusi, Undang-undang, Badan bahasa negara
Contoh Wilayah Kanada (Inggris & Prancis), Singapura (Inggris, Melayu, Mandarin, Tamil)
Aspek Terkait Bahasa nasional, Bahasa kerja, Sosiolinguistik

Bahasa resmi adalah sebuah bahasa yang diberikan status hukum secara khusus oleh suatu negara, negara bagian, atau yurisdiksi tertentu. Secara umum, bahasa resmi merupakan bahasa yang digunakan dalam lingkungan pemerintahan, sistem hukum, administrasi publik, dan dokumen kenegaraan (seperti undang-undang dan peraturan resmi). Istilah ini tidak secara otomatis merujuk pada bahasa yang paling banyak digunakan oleh populasi di suatu wilayah, melainkan bahasa yang ditetapkan oleh pemerintah untuk keperluan operasional dan birokrasi.

Hampir separuh dari negara-negara di dunia memiliki bahasa resmi. Beberapa negara, seperti Indonesia dan Prancis, hanya memiliki satu bahasa resmi, sedangkan negara lain, seperti Afrika Selatan, India, dan Swiss, mengakui banyak bahasa resmi untuk mengakomodasi keragaman etnis dan linguistik di wilayah mereka. Di sisi lain, terdapat pula negara yang tidak memiliki bahasa resmi secara de jure (berdasarkan hukum) di tingkat federal, seperti Amerika Serikat dan Britania Raya, meskipun bahasa Inggris berfungsi sebagai bahasa resmi secara de facto (dalam praktik nyata).

Sejarah dan Perkembangan

[sunting | sunting sumber]

Konsep bahasa resmi mulai berkembang seiring dengan munculnya negara bangsa pada masa pasca-Abad Pertengahan di Eropa. Sebelumnya, pada masa kuno, Kekaisaran Romawi menggunakan bahasa Latin dan bahasa Yunani sebagai bahasa administrasi, meskipun berbagai bahasa lokal tetap digunakan oleh penduduk taklukan.

Pada abad ke-16, Ordonansi Villers-Cotterêts (1539) yang dikeluarkan oleh Raja [[François I dari Prancis|François I]] menetapkan bahasa Prancis sebagai satu-satunya bahasa yang sah untuk dokumen hukum dan administrasi di Prancis, menggantikan bahasa Latin. Hal ini merupakan salah satu contoh pertama dari penetapan bahasa resmi secara formal oleh sebuah entitas negara modern untuk menyatukan populasi yang memiliki beragam dialek.

Di era kolonialisme, negara-negara Eropa seperti Spanyol, Portugal, Britania Raya, dan Prancis sering kali memaksakan bahasa mereka sebagai bahasa resmi di wilayah jajahan. Akibatnya, hingga saat ini, banyak negara pasca-kolonial di Afrika dan Amerika Latin yang masih menggunakan bahasa mantan penjajah mereka sebagai bahasa resmi demi menjaga netralitas antaretnis di dalam negeri atau untuk memfasilitasi urusan internasional.

Perbedaan dengan Bahasa Nasional

[sunting | sunting sumber]

Bahasa resmi sering kali disamakan dengan bahasa nasional, padahal keduanya memiliki fungsi dan makna yang berbeda dalam kajian sosiolinguistik dan kebijakan bahasa:

  • Bahasa Resmi berfokus pada fungsi pragmatis, administratif, dan hukum. Bahasa ini digunakan oleh negara untuk menjalankan roda pemerintahan.
  • Bahasa Nasional berfokus pada fungsi ideologis, budaya, dan identitas. Bahasa ini dianggap mewakili jiwa atau identitas kebangsaan dari masyarakat di suatu negara.

Sebagai contoh, di Singapura, bahasa Melayu adalah satu-satunya bahasa nasional berdasarkan konstitusi, namun negara ini memiliki empat bahasa resmi: bahasa Inggris, bahasa Melayu, bahasa Mandarin, dan bahasa Tamil. Di Indonesia, bahasa Indonesia memegang status ganda yang unik, yakni sebagai bahasa resmi negara sekaligus sebagai bahasa nasional pemersatu bangsa.

Bahasa Resmi di Negara Multilingual

[sunting | sunting sumber]

Di negara-negara yang sangat multilingual, pemilihan bahasa resmi sering kali menjadi isu politik yang sensitif. Untuk menghindari konflik antaretnis, banyak negara memilih untuk menetapkan lebih dari satu bahasa resmi:

  • Kanada: Memiliki dua bahasa resmi di tingkat federal, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Prancis, untuk mengakui dua komunitas pendiri negara tersebut.
  • Swiss: Mengakui empat bahasa resmi: bahasa Jerman, Prancis, bahasa Italia, dan bahasa Romansh. Pembagian administrasi sangat bergantung pada wilayah geografis (kanton).
  • India: Konstitusi India tidak menetapkan satu bahasa nasional, tetapi menetapkan bahasa Hindi (dalam aksara Dewanagari) dan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi pemerintah federal. Selain itu, terdapat 22 bahasa yang diakui secara resmi di berbagai negara bagian.
  • Afrika Selatan: Pasca-era Apartheid, negara ini menetapkan 11 (kemudian menjadi 12 pada tahun 2023 dengan diakuinya bahasa isyarat) bahasa resmi untuk memberikan pengakuan setara terhadap bahasa-bahasa pribumi seperti bahasa Zulu dan bahasa Xhosa, di samping bahasa Inggris dan bahasa Afrikaans.

Penggunaan di Organisasi Internasional

[sunting | sunting sumber]

Selain negara, organisasi internasional juga menetapkan bahasa resmi untuk mengatur jalannya pertemuan, penerjemahan dokumen, dan komunikasi antaranggota.

  • Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB): Memiliki enam bahasa resmi, yaitu bahasa Arab, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Rusia, dan bahasa Spanyol.
  • Uni Eropa: Sebagai entitas supranasional, Uni Eropa sangat menekankan multilingualisme dan saat ini memiliki 24 bahasa resmi yang memiliki kedudukan hukum yang sama, di mana seluruh undang-undang Uni Eropa harus diterjemahkan ke dalam setiap bahasa tersebut.
  • ASEAN: Memiliki satu bahasa resmi untuk urusan diplomasi dan dokumen tingkat kawasan, yaitu bahasa Inggris.

Dampak Sosial dan Politik

[sunting | sunting sumber]

Penetapan suatu bahasa sebagai bahasa resmi dapat memberikan keuntungan besar bagi penutur asli bahasa tersebut, seperti kemudahan akses terhadap pendidikan, pekerjaan pemerintah, dan sistem peradilan. Sebaliknya, kebijakan ini sering kali meminggirkan bahasa minoritas. Ketika warga negara tidak menguasai bahasa resmi, mereka dapat mengalami kesulitan dalam berpartisipasi dalam kehidupan politik dan menghadapi risiko diskriminasi hukum.

Beberapa ahli bahasa mengkritik kebijakan bahasa resmi yang membatasi penggunaan bahasa lokal sebagai bentuk imperialisme linguistik. Oleh karena itu, belakangan ini mulai bermunculan gerakan hak-hak bahasa (linguistic rights) yang mendorong negara untuk melindungi bahasa minoritas serta menyediakan layanan penerjemahan di ruang publik.

Lihat Pula

[sunting | sunting sumber]